Skip to main content

#MagicalRamadhan #Day2

Mengingat dan menuliskan sedetail mungkin satu peristiwa terbaik dalam hidup.


Harusnya ini jadi sebuah tugas yang mudah, satu peristiwa yang kalau diingat secara otomatis akan menggerakkan bibir ini ke sudut-sudut muka. Halah, apa coba? Haha.. pokoknya peristiwa yang bikin senyum kalau diingat.

Masalahnya, ada terlalu banyak peristiwa yang bikin aku tersenyum, pas aku tahu kalau aku lolos SNMPTN (meski akhirnya ga ku ambil), pas aku diterima kerja sebagai announcer di Star 90.5 FM juga bikin aku over excited sampai rasanya pengen jejingkrakan sampai menembus bumi. Juga waktu aku ulang tahun, pertama kalinya dikecup abah di kening, seumur ingatanku itu adalah hal ter-so-sweet yang pernah aku terima dari beliau.

Juga waktu pada akhirnya aku yang sedari awal takut ke-GR-an mendapat kepastian kalau ternyata itu bukan hanya sebuah ke-GR-an belaka, dan kemudian secara ajaib merasa yakin dengan dia dan akhirnya bilang 'deal'. Hanya rasa lega dan syukur tak terhingga yang ingin aku panjatkan saat itu. Lucu, sampai sujud syukur segala, meski setelah itu tetep.. jejingkrakan juga.

Nah kan, aku jadi bingung kalau harus menentukan satu peristiwa terbaik dalam hidup aku. Alhamdulillah, ada banyak hal baik yang terjadi, meski selalu ada juga hal buruk menggampirinya. Tapi, Alhamdulillah lagi hingga detik ini, hal buruk itu hanya menjadi semacam 'warn', peringatan agar aku jangan sampai mengulang lagi kebodohan yang sama. Ga sampai sebegitunya menghantuiku.

Hmm.. so, apa ya? The best moment ever in my life?

Mungkin ini bukan yang the best ya, karena menurut aku sekecil apapun kebaikan yang terjadi dan aku dapat selama hidup aku adalah the best moment (that's why I couldn't decide, a litle bit dificulty to decide, actually).

Sebuah peristiwa yang terjadi sekitar beberapa bulan belakangan. Aku ga tahu waktu pastinya kapan, hanya saja ini sudah berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Mungkin agak kurang tepat kalau disebut sebagai peristiwa sih, lebih tepatnya kalau disebut sebagai mm.. apa ya? Malah bingung :p

Oke deh, sebut saja ini peristiwa. Sebuah moment ketika aku pada akhirnya bisa memaafkan orang yang sudah pernah menorehkan kisah pahit dalam catatan ingatanku. Bukan karena aku pada akhirnya amnesia dengan semua lembaran kisah hitam itu, tapi ketika pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak lari dari kenyataan bahwa semua hal pahit itu terjadi karena memang sudah seharusnya hal itu terjadi.

Aku rasa, mereka semua juga ga mau menjadi orang 'hitam' dalam ceritaku dan hidupku. Siapa sih yang mau menjadi 'penjahat' dalam kisah hidup seseorang? Aku sih ga.

Takdir lah yang mengharuskan mereka menjadi tokoh antagonis, bukan berarti aku menyalahkan takdir ya. Artinya ya memang sudah digariskan aja, ini nih orang yang bakalan bikin aku bahagia, dan ini nih orang yang bakalan bikin aku nelangsa.

Jadi yah, buat apa mendendam terlalu lama? Buat apa sakit hati dengan satu orang (peristiwa) secara terus-menerus dan berkelanjutan? Luka sudah tertoreh, rasa sakit sudah tak terperi, tangisan sudah tumpah, kemarahan sudah diledakkan. Ya sudah, semua hal negatif itu tidak perlu ditambah lagi dengan beban mendendam kan?

Tapi bisa saja, bukan memaafkan orang tersebut yang menjadi masalah, tapi memaafkan diri sendiri yang sangat sulit. Sering kan ya, seseorang memaki dirinya sendiri sebagai orang yang bodoh kenapa sampai bisa terjebak dalam situasi pahit tertentu, kenapa dia begitu bodoh sampai akhirnya membiarkan dirinya disakiti oleh orang lain, ga cuma sekali tapi berkali-kali, oleh orang yang sama pula, misalnya.

Maafkan dulu dirimu, ga adil kan? Kamu sudah tersakiti, kamu sudah nelangsa, masa kamu tambah lagi dengan menyalahkan diri sendiri? Memangnya kamu apa? Dewa gitu jadi ga boleh salah? Memangnya kamu pikir hati dan perasaan kamu dari baja gitu? Jadi setelah dia mengalami kesakitan parah lantas bisa kamu tambah dengan menyalahkannya? Sayangi dirimu, maafkan dirimu. Itu akan sangat membantu kamu untuk memaafkan orang lain.

Inti dari maaf-memaafkan ini sih adalah bagaimana agar kamu bisa ikhlas dengan semua yang sudah terjadi.

Aku mencoba sedemikian rupa mengatur, lebih tepatnya menyugesti diriku dengan doktrin-doktrin itu. Alhamdulillah, aku berhasil, meski jujur saja itu bukan hal yang mudah. Perlu banyak waktu sampai aku bisa menanamkan pola pikir seperti itu, kemudian pelan-pelang mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, memaafkan diriku dan akhirnya memaafkan orang-orang itu.

Dan satu hal sebenarnya yang sangat penting dan wajib hukumnya untuk dilakukan, bisa dibilang sih ini sebenarnya kunci utamanya. Dekatkan diri kepada Tuhan, sedikit rahasia, ketika kamu mulai gampang uring-uringan, itu alarm kalau kamu sudah mulai menjauh dari-Nya.

Hingga kemudian, aku rasa aku berhasil. Indikator keberhasilannya adalah ketika kamu merasa hidup kamu lebih ringan, tidak ada beban, tidak ada kegelisahan yang tidak beralasan dan tidak perlu. Tidak ada dendam dan rasa ingin membuat dia merasakan kesakitan yang kamu rasakan sebelumnya.

Kamu juga lebih bisa ikhlas dan lebih optimis memandang hidup. Kamu punya self-respect yang lebih baik terhadap dirimu, dan orang lain. Kamu ga hanya akan melihat sesuatu dari satu sudut pandang, membuatmu sedikit bisa lebih wise dalam menyikapi sebuah kejadian.

Aku berharap, aku semakin bisa lebih mudah untuk memaafkan orang lain dan diriku sendiri, lebih bisa menjadi sosok yang tidak memendam dendam, lebih bisa menjadi jiwa yang ikhlas dan bahagia. Ini adalah sebuah  proses yang terus berlangsung.

Karena manusia adalah makhluk yang paling rentan tersakiti, maka proses memaafkan ini akan terus terjadi sepanjang hidup. Hanya semakin lama proses menuju ke 'memaafkan' akan semakin cepat (sepertinya, relatif sih).

Pokoknya, setiap ingat moment ketika aku-akhirnya-bisa-memaafkan ini selalu membuatku tersenyum. Terima kasih Tuhan, tanpa ridho-Mu aku ga akan bisa berhasil melewati itu semua. Terima kasih untuk semua orang yang memberikan semangat untukku. Terima kasih untuk diriku yang sudah bersedia disugesti dengan doktrin-doktrin baik itu. Terima kasih pikiran dan orang-orang yang sudah membuka pikiranku sehingga aku bisa berpikir dengan cara seperti itu.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Alhamdulillah :)

Comments

Popular posts from this blog

Arale Norimaki

Daripada aku bikin kultwit ya ngejelasin nih si Arale yang baru saja namanya aku sadur jadi nama pengguna twitterku, sekalian aja aku tulis satu artikel khusus mengenai dia.

Jadi, Arale ini adalah cyborg, tahu kan ya cyborg itu apa? APA? GA TAHU? Pfft... cyborg itu robot yang menyerupai manusia. Arale ini adalah cyborg dengan penampakan seperti anak perempuan berusia antara 6 sampai 8 tahunan (menurut aku loh ya).


dan ternyata usianya 14 tahun, abis dia pendek sih.. makanya aku kira ga sampe 10 tahunan. Tapi dia robot sih ya? Jadi ga salah juga kan aku? *mencari pembenaran*
Mungkin kaya aku, kebanyakan orang tahunya Arale itu dari komik Dragon Ball. Tapi ternyata dia punya komik sendiri berjudul Dr Slump. Iya, aku juga baru tahu, APA? Kamu udah tahu? APA?! Aku cupu? *ga terima*
Tapi di komik yang  manapun, karakter Arale sama aja. Dia digambarkan sebagai anak kecil perempuan, yang lucu, menggemaskan, dan adikable banget. Dia juga punya kekuatan super, wajar lah ya, namanya juga robot. …

Pelarian

Mungkin kamu sial ketika diPHPin sama seseorang, tapi kamu sangat sial ketika kamu hanya dijadikan pelarian. Bayangkan, dalam benakmu dia serius ingin bersamamu, tapi ternyata kamu hanyalah orang sementara yang dia jadikan sebagai 'obat' untuk mengusir kegalauannya. Dan setelah itu kamu bakalan ditinggalin. Kurang sial apa coba?

Seringkali aku menemui kasus semacam ini, seseorang yang baru saja mengalami pata hati, pasti akan sangat galau, terpuruk, sedih, yah.. seperti umumnya orang yang patah hati lah.
Beberapa berusaha menyembuhkannya sendiri, beberapa lagi menggunakan jalan singkat, yaitu dengan mencari seseorang yang bisa di jadikan pelampiasan. Memang sih, salah satu cara untuk menyembuhkan luka akibat cinta adalah dengan menemukan cinta baru. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menjadikan orang sebagai pelarian.
Apalagi kalau niatnya buat balas dendam. Kamu pasti ga percaya karma.
Gimana ya? Okelah dia nyakitin kamu banget dan sakitnya minta ampun kaya dikuliti hidup…

Mengenai Pergantian Nama Pengguna Saya

Baru aja ganti nama pengguna twitter jadi @arraale dari sebelumnya @rrhm_, setelah selama beberapa jam mengutak atik kemungkinan nama lain. Bahkan aku sampai bikin daftar nama-nama apa saja yang avaliable. Intinya sih ya mau ganti nama aja, rasanya kalau cuma inisial kok kurang lucu ya? Hehehe

Awalnya sih masih mainstream dengan menggunakan akhiran -addict, -nisme, -licious. Tapi kok kayanya umum banget, secara ya aku kan anti-mainstream gitu *langsung dijitak seisi dunia*.

Pokoknya, lumayan banyak calon nama yang aku temukan, dan mainstream tentunya, sampai akhirnya aku ingat, waktu SMA ada yang ngatain aku Arale (kalo ga salah ummi Tia). Aku coba pakai arale, aku ga berharap banyak sih bakalan avaliable, ternyata benar sudah ada yang pakai. Ga menyerah, aku utak atik hurufnya, sampai aku menemukan arraale.

Aku rasa itu cukup pas, filosofinya sih gini, beberapa teman ada yg memanggilku dengan Ar, ada yang pakai Raa, ada yang Ara, Rara, Rahma, dll dst dsb. Pokoknya nyambung aja dengan…