Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2012

Cerpen : Lembar Terakhir (Part VII)

Kuusap butiran halus yang meluncur turun dari sudut mataku, kuusap-usap lembaran terakhir buku kecil besampul putih ini. Kututup cepat ketika kurasakan Bunga menghampiriku, “Mama, ngapain dalam gudang? Mama menangis?” tatap bunga khawatir. Ah.. terimakasih Tuhan menganugrahkan Bunga kepadaku, usianya masih sangat belia tapi dia sudah memiliki kepekaan dan kepedulian yang sangat tinggi.
“Tidak sayang, mama kelilipan debu” jawabku sambil mengusap kepalanya. Bunga ber-oh-ria, lucu sekali. “Ayo kita ketaman, nanti mata kamu kelilipan debu juga” kugandeng tangan Bunga keluar dari gudang. “Mama, buku apa itu tadi?” astaga, sebegitu memperhatikan aku kah Bunga tadi? “Itu buku harian mama dulu, sudah.. Papa pasti sudah menunggu di depan, kan?”. Bunga menggangguk semangat, segera saja dia menghambur keluar menghampiri papanya.
Melihat Bunga dan mas Andi bercengkrama adalah hiburan tersendiri untukku. Rupanya sama seperti ibu, aku sangat menyukai taman yang rimbun dengan bunga dan pepohonan. D…

Cerpen Dadakan

Sebuah ide yang mendadak terbersit tanpa bisa ditahan lagi setelah membaca Filosofi Kopi nya Dee Lestari.
Akhir Bulan                 Februari, adalah bulan yang paling aku tunggu dalam setahun. Karena bulan ini adalah bulan yang paling mini dalam segi kuantitas tanggal. Meski ada penambahan hari di setiap tahun kabisat, namun dia tetaplah si bungsu dari sebelas bulan lainnya yang rata-rata memiliki nominal mencapai angka tiga puluh.                 “Ini tanggal berapa?” tanya Nia diantara suara bising denting sendok yang beradu dengan piring. “Dua delapan” jawabku dengan mulut setengah penuh dan bagian mie yang menjuntai. Beberapa kali aku mencoba mempraktekan menyedot mie seperti di iklan, dan aku menyerah setelah kurasakan mulutku akan monyong permanen. “Besok akhir bulan, saatnya belanja” aku tahu Nia mengucapkan itu hanya untuk dirinya sendiri, salahnya menggumam terlalu keras sampai aku mendengarnya. “Mau aku temani?” tawarku tanpa basa-basi. “Boleh” jawabmu singkat.            …

Cerpen : Kursi Kosong (part VI)

Sepertinya aku datang terlalu pagi, hanya beberapa orang yang ada di sekolah. Kusapa pak Sud yang sedang menyapu dedaunan yang berserakan di taman depan kelasku. Aku belum mau masuk kelas dulu, kujatuhkan pantatku di bangku taman, masih menikmati suasana pagi di halaman sekolah. Kuhirup dalam udara pagi yang masih segar, kuhirup sedalam mungkin seolah udara itu adalah aliran kekuatan yang akan menguatkanku, dalam arti apapun. Kemudian kuhempaskan kuat-kuat, seolah membuang semua beban yang menghimpit dan menyesakkan dadaku.
Perlahan aku bangkit dan berjalan menuju kelas. Semakin mendekati pintu kurasakan jantungku berpacu semakin cepat, padahal jarak antara taman dan kelas hanya beberapa meter. Aku mulai merasa gelisah dan limbung, sekali lagi kuhela napas dalam-dalam. Kulangkahkan kakiku kedalam kelas.
Belum ada seorangpun yang datang, keadaan kelas masih sama, keset, ubin berdebu, whiteboard, meja guru, taplak meja diatasnya, kursi itu.. aku terhenyak, segera aku membuang pandangan…

Cerpen : Gitar Part II (Part V)

Kumainkan dengan penuh penghayatan sebuah lagu yang sudah satu minggu ini aku pelajari dari ayah disela-sela waktu senggangnya. Sulit memang memainkan secara akustik, apalagi sambil menyanyikan liriknya. Aku memasang konsentrasi penuh, tidak kurasakan lagi sekitarku. Hanya aku dan laguku.


Sampa kemudian pandangan mataku tertuju kepada sesosok laki-laki asing di sudut kelas, sedikit heran namun aku tidak terlalu memperdulikannya. Aku kembali larut dalam melodiku, menjaga tempo, jeda, petikan-petikan dan senar yang mana yang harus aku tekan, serta keseimbangan vokalku. Sampai akhirnya laguku selesai dengan sempurna.


Suasana hening, aku buka mataku dan tidak berapa lama tepuk tangan membahana diseantero kelas. Aku terkesiap, sekaligus bersyukur karena penampilanku mendapat respon baik. "Bagus sekali Rania" puji bu Dian, guru kesenian yang paling asik yang pernah aku temui. Demi dialah aku belajar mati-matian memainkan lagu ini, lagu kesukaanku yang ternyata juga lagu kesukaannya.


Semester Dua : Penghuni Kampus

Setelah terkejut-kejut dengan jadwal kuliah yang memenuhi semua hari dalam satu minggu kecuali hari Minggu, secara resmi aku menyatakan bahwa aku menjadi penghuni kampus yang sah. Emang sih udah dari semester sebelumnya aku seharian di kampus, tapi buat semester ini beda. Soalnya aku di kampus ga sekedar kongkow-kongkow, tapi emang beneran kuliah, kalo ga kuliah ya ngerjain tugas. Kehidupan kuliah semester dua ku benar-benar berbalik 180 derajat dari kehidupan kuliahku di semester satu. Yah.. yang satu itu juga. *kemudian hening*

Banyak sih yang mengeluh dengan jadwal yang bisa dibilang ga ada liburnya ini, terutama teman-teman yang berasal dari luar daerah (Amuntai, Barabai, Kandangan, dan daerah-daerah laiin yang memerlukan waktu tempuh lebih dari satu jam lainnya), juga teman-teman yang rumahnya jauh (dari daerah Ulin, atau Bati-Bati) yang harus bolak-balik rumah kampus setiap hari.

Kadang ada yang sampai dua kali sehari karena jeda antara mata kuliah satu dengan mata kuliah yang l…

Cerpen : Gitar Part I (Part IV)

Tidak banyak yang aku siapkan untuk sekolah besok. Di dalam tas masih buku untuk jadwal hari Senin, selain tiga PR dan melengkapi catatan (Hanna baik sekali, kedatangannya tidak hanya menengok ku, tapi juga membawakan seabrek catatan dan PR) tidak ada hal lain yang aku persiapkan secara khusus. Yah, kecuali satu, mental.
Aku mencoba tidak terlalu memikirkan akan seperti apa jadinya besok, tapi sayangnya sekarang aku sedang terhanyut dalam lamunan spekulasi mengenai kemungkinan apa-apa saja yang akan aku hadapi dan apa-apa saja sebaiknya reaksiku serta apa-apa saja yang aku harus lakukan untuk menghadapinya. Sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan?
Tok tok..!Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku,  “Ra.. makan, nak”. Rupanya ibu, aku sedang tidak lapar sebenarnya “Iya, Bu. Sebentar”. Aku keluar kamar dan aku lihat punggung ibu sudah memasuki ruang makan. Tidak ada kata tidak makan bersama di rumah, ibu membuat peraturan ini : “Sarapan dan makan malam harus makan bersama! Peng…

Customer Paling Menyebalkan ==> GUE!

Pertama kali aku belanja online itu sekitar bulan Oktober, aku beli jaket di salah satu online shop yang menggelar dagangannya di fb. Awalnya sih gugup, agak sulit percaya, udah gitu aku benar-benar kagok kalo udah berhadapan dengan bank sedangkan pembayarannya melalui transfer. Solusi aku sih waktu itu bayar langsung sama pemilik online shop itu, sedikit membuat aku berani juga karena aku tahu orangnya dan basisnya jelas. Jadi kalau ada apa-apa urusannya ga terlalu rumit pake acara kejar tersangka yang kabur ke Singapura. Nyahaha

Dari situ aku mulai berani percaya sama online shop. Terakhir aku beli buku secara online, tapi buat kali ini aku beneran transfer uang ke Bank. Pengalaman baru banget buat aku, untung waktu itu ditemani sama kaka tingkat yang sangat fasih sama urusan Bank dan dedengkotnya (transfer, tarik tunai, dll).

Awalnya aku sempat bingung mau transfer berapa karena terjadi kesalahan di webpage online bookstore itu mengenai harga ongkir yang harus aku kirim, masa ongki…

Jalan Favorit

Aku punya hobi bersepeda, kemana-mana ga jelas arah dan tujuan. Pokoknya aku naik sepeda aja, keringatan terus sampai rumah cape. Meski aku suka ga jelas tujuannya kemana, ada satu jalan yang nyaris jadi tempat wajib lewat tiap kali aku sepedaan. Aku ga tahu sih apa nama jalannya, pokoknya yang dekat KFC sama Kabayan itu. Yang domisili Banjarbaru pasti tahu kan?

Nih penampakan jalannya :






Beberapa foto aku ambil sambil jalan, beberapa aku berhenti dulu baru ambil foto. Ada satu foto yang aku ambil dari tengah jalan, I know.. How freak I am? Nyahahaha
Aku suka jalan ini soalnya pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan bikin suasana disana teduh, hawanya segar, dan meski dekat dengan jalan besar, jalan ini relatif sepi. Karena itulah, aku menganugrahkan jalan ini dengan julukan jalan favorit.

Tuh, gimana ga teduh? Kalau kamu tengadahkan kepala, maka pemandangan kerimbunan dedaunan inilah yang tersaji. Jalan itu seolah diatapi oleh daun-daun rimbun dari pohon-pohon yang tumbuh dis…

Mengenai Cerpen DLL

Akhir-akhir ini aku malah banyakan nulis cerpen yang setiap cerpennya saling berhubungan. Oke juga kalo kamu sebut sebagai cerbung, no problemo :)

Salah satu kesulitan yang aku rasa dari cerpen-cerpen itu adalah menemukan ilustrasi yang tepat untuk menghidupkan setiap kisah yang aku angkat. Apalagi yang terakhir ini, sampai terpaksa menggunakan ilustrasi yang fotonya gambar anak-anak. Tapi biar begitu aku rasa untuk cerita kali ini udah "PAS".

Liburan kali ini tidak membosankan juga, setelah "The Journey" aku melakukan banyak hal yang tidak biasa aku lakukan, salah satu yang berkesan adalah makan pancake ini :


It so damn yummy!!
Selain itu aku juga untuk pertama kalinya secara live nonton open mic Standup Comedy Banjarmasin. Rasanya great karena menyaksikan secara langsung dan juga terlibat (sebagai penonton) di acara tersebut, karena itu adalah open mic PERDANA dari komunitas Standup Banjarmasin.
"Dibalik semua kesenduan, dibalik semua kesedihan, haruslah ada …

Cerpen : Mereka (Part III)

Sudah seminggu berlalu semenjak aku tiba-tiba pingsan saat upacara dan harus beristirahat di rumah. Kata dokter Haris aku sudah boleh sekolah lagi besok, mendengar itu perasaanku campur aduk.
Tanpa segala masalah ini aku adalah orang yang dingin dan pendiam, dari bisik-bisik yang aku dengar mereka menganggap aku autis. Jahat memang menggunakan kata itu sebagai cara mendekripsikan kediamanku. Aku hanya membenci basa-basi, dan tidak suka terlalu banyak bicara hal yang tidak penting. Jadi wajar saja, selama satu minggu aku absen tidak ada yang menengok satupun. Lagipula mereka tidak tahu dimana rumahku.
Tapi jujur satu minggu di rumah saja membuatku suntuk.
Ada orang di depan pagar, aku mencoba mengenali siapa. Jarak antara pagar dengan beranda memang cukup jauh, tapi aku tidak mungkin salah. Ada Hanna dan Kiki di depan, mereka tampak ragu. Entah apa yang mendorongku, aku beranjak dari kursi dan menghampiri mereka.
“Ah.. Ra!” Hanna nampak senang melihatku, dia melambaikan tangannya. Ter…

Cerpen : Sore Termendung (Part II)

Ku regangkan badan, baru saja terbangun dari tidur yang sudah tak pernah lelap. Sebuah kuap kecil menghiasi ekspresiku, "mimpi itu lagi" gerutuku. Sering aku menolak untuk tidur, bukan karena aku tak lelah, bukan juga karena aku tak mengantuk. Malah yang ada aku bertarung dengan kantuk itu. Ada mimpi yang ku hindari, dan mimpi itu tak akan ada jika aku tetap terjaga. Itulah mengapa ada lingkaran hitam menghiasi bawah mataku, aku terlihat seperti zombi, komentar mereka yang sangat jarang aku gubris. Tapi seperti barusan, tak jarang aku mengalah dengan kantuk dan lelah, untuk kemudian terlelap dan mengalami mimpi buruk itu.
Ku julurkan kepalaku keluar jendela, hari sudah mulai gelap. Dingin, angin yang berhembus membawa hawa dingin yang tidak nyaman. Meski untuk orang normal bisa membuat mereka kembali terlelap, bagiku tidak.
Aku beranjak dari kamar, melalui ruang tengah. Tak sengaja mataku berpapasan dengan penunjuk waktu, agak tak percaya kalau sekarang masih pukul setengah…

Cerpen : Pagi Tak Pernah Sedingin Ini (Part I)

Badanku masih gemetar, padahal aku sudah memakai sweater yang aku lapis dengan jaket tebal. Aku rapatkan jaketku, aku menghela napas. Kutatap tangan-tangan ringkih ini, masih saja bergetar. Kualihkan pandangan, diluar gerimis, sepertinya masih lama akan reda. Awan hitam tampak setia menyembunyikan kehangatan mentari.
Kucoba mengalihkan pikiran, aku tidak ingin memikirkan ini. Sudah berbulan-bulan berlalu, sudah cukup banyak waktu aku habiskan. Sudah cukup semua getar tak perlu ini.
Hawa terasa semakin menusuk, padahal ini sudah pukul sembilan pagi. Apakah hanya aku yang merasakan dingin ini? Gemetar ini karena dingin kan? Aku berusaha keras meyakinkan diriku kalau apapun yang terjadi saat ini aku baik-baik saja,semua hanya reaksi terhadap hawa dingin.
Satu sisi aku berusaha keras meyakinkan aku normal, tapi ada satu sisi yang meski lemah tapi tak bisa dipungkiri dia benar, "aku tidak baik-baik saja, fisikku mungkin baik, tapi secara jiwa tidak". Aku tidak bisa membungkam se…